Turquoise (kumpulan puisi cinta)
0 Colour Pages & 100 B/W Pages
Kategori: Kumpulan Puisi
Harga: Rp 40500

Galuh Hapsari

 

TURQUOISE

KUMPULAN PUISI CINTA

 

 

Penerbit

 

 

TURQUOISE

Oleh:

Galuh Hapsari

(www.rumahlangit.tumblr.com)

Copyright © 2010 by Galuh Hapsari

 

Penerbit

 

Rumah Langit

[email protected]

 

Desain dan Ilustrasi Sampul:

Galuh Hapsari

 

 Diterbitkan melalui:

 

Terimakasih yang hebat kepada satelit jiwa, Allah SWT yang telah memberikan waktu untuk menikmati proses hidup.

Keluarga tercinta: Alm. Bapak Gondo Soedjito, papa tercinta dan guru sejati, terimakasih telah mengajarkan banyak hal tentang hidup, budaya, dan seni. Mama tersayang, Mas Kunto dan Mbak Maika, Bang Daniel dan Mbak Icha, juga keponakan-keponakan ajaibku Zanetha, Sarah, Abygail dan Ganesh atas setiap pelukan dan dukungannya.

Keluarga keduaku, Genkges: Dea, Chipa, Meltrin, Shelda, Ega, Mbak Intan, Winna dan spesial geng Dodo, Dewinta dan Wida atas setiap waktu yang penuh sihir bahagia.

Saudara seperjuangan promosi di SCM tercinta (Om Catur, Mono, Olive, Melinda, Desti, Youspiking, Om Ramli, Mas Sigit, Teh Njoe, Om Andi, Amang dan Usman) plus The Tokem’s untuk semangat yang membara setiap saat. Love you full!

Special thank to Bunga Mega yang telah memberikan semangat untuk menulis.

Kemudian untuk manusia yang hampir sempurna di mata saya, terimakasih, hatimu bagaikan lautan untukku. I dedicate these poems for you only. Walaupun Langit dan Laut takkan pernah bersama, aku percaya masing-masing kita akan bahagia.

Dan untuk semua kerabat yang tidak mungkin disebutkan satu per satu kalian adalah sumber inspirasi hingga tiada hari tanpa goresan-goresan kata. Terimakasih penuh cinta.

 

PENGANTAR

          Laut dan langit yang sama hebatnya menciptakan “Turquoise”. Sebuah tumpahan warna dari dua dunia. Percikan curahan hati seorang gadis langit untuk sang jagoan laut membentuk baris-baris kata.

          Buat saya mencintai adalah hal yang istimewa karena dibutuhkan kekuatan untuk melewati prosesnya. Seperti mencampur racikan warna untuk membuat gradasi turquoise. Terkadang bahagia, sedih, marah, bosan juga tak urung datar.

          Seperti pada puisi-puisi yang tercipta ini tersirat kisah seorang gadis langit yang tak pernah berhenti mencintai laki-laki laut. Dia berharap pada guratan pena. Andai waktu tak pernah kembali namun segala hal akan tetap hidup di hatinya. Takkan pernah pudar oleh sebanyak apapun musim. Karena dapat berpendar pada awan atau pun larut dalam lautan. Karena dia takkan pernah tahu akan kisah selanjutnya. Seperti ketika langit tiba-tiba jatuh cinta kemudian terpisah dengan si jantung hatinya.

          Turquoise adalah komposisi warna ombak dan gulungan awan pada sebuah hati. Sedih, marah dan Bahagia.

          Selamat terhiasi oleh persembahan sederhana ini.

 

 Galuh Hapsari www.rumahlangit.tumblr.com

 

Daftar Isi

Pengantar

Daftar Isi

Chapter Jatuh Cinta

Anak Panah

Bagaimana Caranya Bernyali

Aku Suka Kamu

Saat Perutku Bertemu Kupu-kupu

Pekikan Gitar Melukis Senyum

Arti Matahari

Titip Rindu

Terngiang

Tak Ada Alasan Mencintaimu

Aku Tak Bisa Tidur

Kenapa Harus Malu-malu

Wajahmu Brutal Sekali

Aku Punya Rahasia

Kau Kail Hatiku

Siklus Kardiakku

Sayangku, Lautanku

 

Chapter Marah dan Cemburu

Cemburu

Bidadari Bertanduk

Surat Dari Perempuanmu

Kerajaan Es

Menangislah Sepuasku

Gerutu Gadis-1

Gerutu Gadis-2

Aku Tidak Tahu

Pria Penggombal Ria

Senyumku Mahal

Chapter Patah Hati dan Menunggu

Laut dan Langit

Mimpi

Puisi Gadis Senja

Kotak Sabun

Suatu Pagi

Demi Tuhan

Dua Helai Benang

Jika Langit telah Jenuh Menjadi Kertas

Janji Neptunus

Jika Senja Menua

Satelit Jiwa Bawalah Dirinya

Kaki-kaki Langit

Malam Telah Pergi

Musim Gugur vs Keguguran

Bukan Milikku

Aku Tak Bersayap

Ada Sesuatu Disana

Titik 0

Mesin Penghancur Kertas

Akulah Juaranya

Sentimentil

Wakatobi Tinggal Mimpi

Aku Belum Pernah Benci

Adakah Kau Hidup Di sana?

Sepotong Hatiku

Kau dan Aku-1

Kau dan Aku-2

Menunggumu-1

Menunggu-2

Menunggu-3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teruntuk Laut dan Langit.

Terimakasih.

Wajah kalian membuat inspirasi

layaknya bayangan dua insan

yang saling jatuh cinta.

Namun tak mengerti

ke mana membawa perasaan itu.

Bagimana ketika sebuah kasih

dapat diberikan dengan tulus,

rasa sayang yang tak pernah lebih untuk satu orang.

Walaupun mereka tahu,

hampir tak ada suasana yang bisa

mempersatukan mereka.

 

Laut dan Langit

Saling memandang setiap hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Turquoise

Laut,

Langit

Adalah

Kamu dan Aku

Dan engkau tahu

Aku takkan pernah berhenti

Mengepakkan cakrawala biru

Sekalipun kesempatan menanggalkan kita

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

~ Langit adalah ruangku menyusun serpihan-serpihan  kata

Melintasai deru hujan

Dan cinta memang tak pernah bisa dimengerti

Seperti  jingga  setia melukis pada senja

Menaungi rindu yang selalu menunggu

 

Angin..

Bawalah aku ke laut

Menyentuh wajahnya

Membentuk komposisi warna

Pada Horizon, pertemuan kami ~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jatuh Cinta

Pada setiap salam yang kuucapkan

Pasti terbumbui rasa

Rasa yang dibuat karenamu

Pada setiap malam yang berselimut hitam

Pasti ada hangat yang timbul olehmu

Dan pada setiap pagi yang terang

Pasti ada hidup bahagia karena

MENCINTAIMU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak Panah

Matamu bagaikan anak panah

Yang membidik tajam

Tanpa permisi

Merasuk menusuk

Pada kalbu yang mencipta rindu

 

Tolong jangan ada tangan yang peduli

Biarkan menancap diam di situ

Andai tercabut, aku bisa mati

 

 

 

Bagaimana Caranya Bernyali?

Sebab kata yang tak sempat diucapkan

akan tertiup debu

Hingga waktu mengembalikannya

dengan keadaan menua

 

 

Terkadang hujan sungguh tidak lucu.  

Genangannya menampilan wajahmu. 

  

 

 

Aku suka kamu

Aku tak akan meminjam bulan, bintang ataupun matahari

Akan kubiarkan mereka beristirahat

Begitu banyaknya manusia menculik mereka

ke dalam kata

Mereka pasti lelah
Aku akan membuka memoriku saja

untuk mengungkapkan berjuta rasa di hatiku

 

Seperti aku merindukan ayunan strawberry

Rasa kangenku padamu
Seperti aku menunggu oleh-oleh kue bola dari papa

Saat aku menunggu hadirmu
Seperti menunggu hari esok untuk lomba menari

Saat tak bisa tidur karenamu

Kamu

kamu seperti alasan-alasan yang membuatku senang saat aku masih kecil

Kamu,
Kamu seperti sebuah kejutan di hari ulang tahunku dahulu

Kamu,

Kamu seperti guling kesayangan

yang ingin selalu kubawa kemana saja

Kamu seperti belaian lagu nina bobo

Dan kamu seperti susu pagi hari

yang selalu kutunggu datangnya di depan pintu

sebelum berangkat sekolah

Kamu,

Kamu membuatku merasa memiliki semangat

Untuk semakin bertumbuh seperti keinginanku waktu itu
Kamu, selalu menjadi yang spesial seperti kado dari ibuku


Aku suka kamu

 

 

Saat Perutku Bertemu Kupu-kupu

Kupu-kupu ber-arak-an
Siluet kerdilnya tampak pada purnama
Berjajar membentuk barisan
Berakrobat

Cahaya bulan membuat sayapnya bercahaya
Berkilau pada langit
dan bersenyawa pada awan

Ke sana ke mari
membuat lengkungan senyum pada bibir setiap yang melihat

Tanpa pernah mereka tahu
Bagaimana rasanya berproses

Untuk hal seindah ini

 

Saat perutku bertemu kupu-kupu

Karenamu

 

 

Pekikan Gitar Melukis Senyum

Melihat bayangan garis lengkung senyumku sendiri
pada secangkir teh yang aku seduh
Aku jadi malu 

Satu tegukan, satu senyuman
Bersama ingatan semalam

Dari kejauhan aku dengar alunan melodi
ternyata kita di ruang yang sama, di udara yang sama,di situasi yang sama
Beribu orang lalu lalang
di temaram lampu-lampu dan tenda bagai jamur bertebaran
Sampai pada satu titik

Semua orang konsentrasi
Dengan sesekali teriakan dan lonjakan
Menatap seru ke depan
Riuh, sorak sorai

90 derajadku
Aku. Kamu
Membuat mataku tak berkedip
Itukah kamu ?

Terlihat sangat berbeda
Kau begitu megah dan istimewa
Si usil yang mandiri itu
di atas sana

Pekikan gitarnya
tak hanya sampai di telingaku
sepertinya sudah memakan darahku
dan membuat lengkung senyum di bibirku

Mataku diam tak beranjak
sampai semua berakhir

Aku. Kamu
90 derajad 
semalam tadi

 

 

Arti Matahari

Aku Akan Belajar Tentang Arti Matahari

Kalaupun terlalu panas,

aku akan menyimpan cinta itu dalam termos

Lalu kutumpahkan jika jarak es hanya sejengkal darimu

Uapku akan selembut kapas menyelimuti nafasmu

yang membeku

 

 

 

 

 

 

Titip Rindu

Jangan pangkas hujan

karena aku menitip rindu pada setiap tetesnya

 

Jangan pangkas hujan

Biarkan mereka meresap kenangan ke pori tanah sebentar

Hingga senyap berkendara malam

 

Andai setiap manusia tanpa rasa rindu terhadap apapun

Karena rindu itu menyakitkan terkadang

Seperti balon yang terpompa kuat

dan ingin meledak dalam jantung

Jangan pangkas hujan

Atau  aku  menyelundup pada tiap tetesnya

 

 

Terngiang

Bak tentara semerbak wangi bunga Tanjung

Dan kodok tanpa nyali

Ribuan kata hilang

Tertelan

 

Begitupun sayap-sayap burung pipit

Memotong membelah lantai langit

Membentuk lukisan wajahmu

Yang sempat memandangku sebentar

 

 

Tak Ada Alasan Mencintaimu

Lebih dari Cinta kepada BlackBerryku,

yang katanya bikin aku sakit jiwa

Lebih dari Cinta kepada Stocking hitam pemanis penampilanku
Lebih dari Cinta kepada selimut kumalku,

yang aku tak bisa tidur tanpanya
Lebih dari Cinta kepada pria-pria perayu yang memincutku
Lebih dari cinta kepada Nasi Goreng, makanan kesukaanku
Lebih dari cinta kepada puisi yang memerah kata-kataku
Lebih dari cinta kepada Kopi yang mencanduku

Tak ada...
Tak ada yg menandingimu
Karena Aku tak pernah tahu kau terbuat dari Apa??

Tak pernah ada alasan untuk mencintaimu

 

 

 

 

Aku  Tak Bisa Tidur

Menatap langit-langit kamarku
Manja dan menggoda

Semua tampak tak jauh-jauh

Dari wajahmu yang menjerat

Oh, hari ini Sayang

Aku tak ingin kau pulang

Berlabuhlah pada setiap ruangku

 

 

Kenapa Harus Malu-Malu

Kenapa harus malu-malu

Kalau rindu?

Kenapa harus malu-malu

Katakan saja padaku

Menyimpan rindu akan meledakkan tubuhmu

Karena dia tidak akan berhenti mengalir

Pada sela-sela aliran darahmu

Kenapa harus malu-malu

Jika rindu

Toh! Aku juga sangat rindu

Liriklah wajahku yang bersemu

 

 

 

 

Wajahmu Brutal Sekali

Wajahmu brutal sekali

Menjamah langit-langit cangkir kopiku setiap pagi

 

Wajahmu brutal sekali

Barat dan timur pikiranku telah kau kuasai

 

Wajahmu brutal sekali

Ingin kuborgol saja

Kumasukkan penjara hati

 

 

Aku Punya Rahasia

Dingin memeluk pasir
Debu bicara kepada Tuan Bulan
Bintang menyimak serta
Kunang-kunang terbang dengan kedipan

 

Seperti sedang mengenal hatimu
Apapun seolah melongok ingin mencari tahu
Serasa menuduhku

Inikah rasanya
Aku, tersipu malu

Melambung

Seakan ingin melarikan diri
dengan tarian riang
Meskipun semua bayang-bayang mengejar
Aku tetap malu mengaku
Bersembunyi di sudut, udara meledek
Jail, membuat mukaku merah jambu
Lalu aku terbang bersama merpati
Orang bilang merpati tak pernah ingkar janji

Kuceritakanlah rahasiaku
Sekepak sayapnya mengiyakan

Dan aku kembali
Penuh seri..

 

 

Kau Kail Hatiku

Kau pancing lagi-lagi asmaraku

Hei maunya apa kamu?

Masuk-masuk ke setiap gang pikiranku

 

Menyeret-nyeret penasaranku

Kau pancing dengan kail-kail rindumu

 

Oh! Aku jadi mau

 

 

 

 

 

Siklus Kardiak-ku

Saat cahaya mulai berpendar

Sehabis hujan

Setelah dingin

Seusai kelam

Lalu..

Kutemukan kalam

Mencatat perjalanan baru

Tentu saja terang dan hangat

Di kardiakku bergema

Kekuatan baru

Dan demikianlah siklus

Di antara rerantaian itu

 

Dan engkau ada untuk kucintai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sayangku, Lautanku

Ijinkan aku untuk terus-menerus merasuk

Pada hatimu

Hanya tatapan matamu yang membuatku

Selalu jatuh cinta

 

Setiap aroma peluhmu

Tersimpan rapi di ingatanku

 

Setiap sudut lekuk tubuhmu

Aku ada disitu

Satu senyumanmu

Membuat pondasi kokohku

Walau di tepi jurang

 

Kau sayangku

Lautan tak bertepiku

 

Kau sayangku

Tanyakan adakah yang serindu aku

Kepada dirimu

 

Setiap pelukanmu

Dapat membuatku jatuh cinta jutaan kali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Marah & Cemburu

Mungkin cinta dan benci hanya berjarak satu centi

Jika demikian biarkan diam

Jangan sekali-kali kau pandang

Biar benci mengalir ke hulu

Hingga hilang dari pandangan

 

 

 

 

 

 

 

 

Cemburu

Langit berselimut kabut

Malam putih

Tidak sadarkan diri

Aku baru tahu

Bukan hanya aku di hatimu

Bagianmu lebih mudah

Pilih aku atau aku berhenti menjadi tamanmu

Emosiku tak berhenti sampai di sini

Hati-hati!               

 

 

Bidadari Bertanduk

Meneropong dari balik bilik, bidadari kesurupan
Menganggap dirinya sedang menaikkan keanggunan

Nyatanya dia sedang mengutuk dirinya sendiri 


Tentang bidadari bertanduk itu,

Aku hanya peri kecil, seperti kunang-kunang

dengan cahaya redup
Dan dia, bak petromak
Selalu berusaha melenyapkan cahaya

yang kubuat dengan susah payah 

 

Pilu

Tanpa bahasa, tanpa suara juga kelu
Aku tak pernah melawan

Bukan aku tak mampu, hanya aku tak ingin


Hari-hari tanpa hujan telah terlewati
Semakin aku terdiam semakin terkepak luas sayapku
Membawaku ke pusat senyum paling terang dan ikhlas

Dari kejauhan aku selalu melihat bidadari itu sekelebat
Dia begitu gagah namun selalu berderai air mata
Salahnya tak mengenalku dengan pasti
Merasa menjadi pemenang juga terpilih

Seharusnya dia tahu, perjalanan kunang-kunang sangatlah jauh ditempuh
dengan cahaya yang begitu konsisten

Tak perlu berkobar-kobar
yang akhirnya membakar diri sendiri

Setiap kali melihat tandukmu, yang membenciku begitu kuat
semakin aku mencintai Lelakiku

 

 

 

 

 

 

Surat Dari Perempuanmu

Sepertinya ada benteng yang begitu tinggi

di antara saya dan kamu,

dan itu semakin lama semakin berasa juga mengganggu

Kamu punya privasi yang sama sekali tidak bisa

diganggu gugat, sedang saya tidak memilikinya

Atau kamu tidak mengizinkan saya untuk memiliki privasi itu

 

Terlalu banyak hal yang membuat saya ingin

meninggalkan semua ini

Tapi kamu adalah banyak hal yang juga membuat saya takut meningalkan semua ini

Tolong, saya tidak ingin memikirkan ini sampai pagi lagi

Karena saya dan kamu juga tidak saling bicara

 

Dan jangan mengeluhkan tentang saya,

karena saya tidak pantas untuk dikeluhkan!

Saya hanya berusaha menumpahkan segala kekesalan dan kemarahan saya,

bukan untuk dijadikan yang paling nomer satu

 

Saya hanya ingin kamu mengerti seperti saya,

khawatir seperti saya,

tulus seperti saya,

dan tentunya melengkapi saya

 

 

Kerajaan Es

Terkadang perlu membangun kerajaan es dalam diriku

Akan ku tunjukan betapa aku mampu menghadapi segala benturan

Meskipun aku menangis pilu di setiap rongga bawah tanah

 

 

Menangislah sepuasku!

Biar lega! Mengejar kebahagiaan tidak selalu tanpa air mata

Setelah itu aku akan tersenyum setiap hari

Biarkan mudah!

Karena ini kesepakatan antara aku dan kesadaranku

 

 

 

 

 

 

 

 

Gerutu Gadis-1

Kamu di mana?

Jembatan penyeberangan telah menunggu
Dengan seonggok keberanian aku menyeberang sendirian,

dalam gelap dan gelandangan yang terlelap.

Kamu di mana? Tolong kembalilah!

Dalam hati merintih seiring ketukan air hujan
Rok putih terbelai angin, dan rambutku sedikit terbang


Raut muka pasi menahan begitu banyak kerinduan
Menerawang lampu-lampu kendaraan di bawah pijakan

Andai jembatan ini tidak ada maka jiwa bagai melayang
Andai bisa aku lempar segenap kerinduan dan keberanian ini

Mengapa tak beritahu hatiku?

Untuk menggenggam keyakinan erat-erat seperti pilar penopang jembatan ini

Agar tidak meragu lagi,
Dan bila hujan tak berhenti aku akan tetap melaju, lagi


Karena kerikil sudah terlanjur memaksa masuk ke rongga-rongga sepatuku
Seperti pesonamu tanpa permisi

Membuatku menunggu sebanyak kesempatan itu datang lagi

 

Gerutu Gadis-2

Aku tidak marah
Hanya karena gadis-gadis menggodaimu
Aku juga gadis,

Seperti kupu-kupu menebar pesona ke sana ke mari

Tapi aku marah
Karena gadis-gadis itu mencubitmu
Dan berarti menyentuh kulitmu
Terang saja, itu menyakitimu!

Aku ingin marah
Tapi aku tidak jadi marah

Beruntungnya, cintaku lebih dominan

dari sekedar itu

 

 

Aku Tidak Tahu

Aku tidak tahu caranya menulis dengan baik

Karenanya aku menulis
Aku tidak tahu apa yang harus aku tuliskan

Makanya aku mulai menulis
Seperti aku yang tidak bisa merasakan,

tetapi belajar merasakannya

Menuliskannya seperti sedang memainkan lagu

yang berbeda-beda
Emosiku dibuat seperti naik turunnya tangga
Terkadang note-nya membuat tersenyum

Menari juga menangis

Aku tidak bisa menghargai kamu bicara,

karena aku tidak mendengarnya 
Tetapi aku usahakan menatap matamu
Sambil berusaha menikmati suguhan kopimu

meski aku tak sungguh-sungguh meneguknya

Aku berusaha memahami,

saat dirimu bercerita ingin memiliki sayap
Sayap yang senantiasa akan membawamu

Untuk menemuiku setiap saat
Aku bilang "iya"

Tapi sejujurnya aku tidak mengerti lebih dari itu lagi

Dan aku selalu berusaha berimajinasi

Tentang kota yang selalu kau ceritakan,
karena aku tak pernah melihatnya

Kenapa aku selalu berusaha...dan terus berusaha,
Jika aku tidak bisa!

Aku tidak bisa mengenalmu lebih pasti

Kita selalu memandang bulan yang sama, 
tetapi berbeda cara kita bercerita  tentang kelinci di dalamnya

Sungguh! Ternyata rasa sentimentil kita selalu berseberangan

Kita ini apa?

Aku tidak tahu!

 

 

Pria Penggombal Ria

Dicintaimu dengan Hebatnya
Dari yang aku tidak percaya, menjadi percaya, kemudian tidak percaya lagi 
Hingga pergi begitu saja

Untuk apa bersedih?
Hanya sedang melihat satu per satu polah manusia yang bicara soal cinta
Seolah-olah kau mengetahui semuanya
Seperti pakarnya
Berlomba-lomba menulis kata cinta
Sampai tak sadarkan diri bahwa suatu masa itu akan jadi senjata
Bagi dirimu sendiri

Dan aku lebih membutuhkan semangkuk bubur lengkap dengan rasa kaldunya

Lepas kusiramkan pada wajahmu

 

 

 

 

 

 

 

Senyumku Mahal

Jangan meminta untukku tersenyum hari ini
Karena senyum tidak untuk diminta
Lagipula biarkan barang beberapa waktu ke depan senyumku hilang

Tolong!
karena itu wajar
Kadang aku lelah setiap waktu, setiap saat, setiap hari untuk tersenyum lebar
Meski senyum itu ibadah
Manusiawi


Tidak tersenyum bukan berarti juga aku marah
Aku hanya kehabisan tenaga
Tenaga yang aku kumpulkan sekian lama

tiba-tiba bisa hilang begitu saja

Tidak tersenyum juga bukan berarti aku menangis
Karena manusia juga bisa kehilangan rasa sama sekali

Bukan suatu masalah kan jika tidak tersenyum
kenapa semua harus ditanyakan?

Karena saat tidak tersenyum justru aku sedang sangat jujur,
Sesungguhnya aku sedang tidak bisa merasakan apapun lagi...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Patah Hati & Menunggu

Bagaikan dikremasi hidup-hidup

Memikirkan perpisahan ini

Apa tak kau rasakan?

Tak mungkinkah kita teruskan?

Bagaimana mungkin sebuah perasaan

Dapat pupus dengan percuma

Jika kita saling jatuh cinta

 

Ya! Aku tak tak terima!

 

 

 

 

 

 

Laut dan Langit

Engkaulah laut

Dan aku adalah langit

Yang akan selalu menjagamu

Bersama matahari

Berteman bulan dan bintang di rengkuh malam

 

Cukup dari sini saja

Kubelai setiap resahmu

Mewarnai sepimu

 

Kita selalu berdiri

Setia pada sudut masing-masing

Aku tahu kau tahu

Pada kehadiranku

Saat-saat kau sendiri

Ketika ditinggalkan

 

Menjadi payungmu

Jika sendu, menengadahlah!

 

Dan kau akan mengerti

Aku selalu siaga

Menunggu dan merindukanmu  

 

 

Mimpi

Malam tadi kau memelukku

Apakah pertanda?

Bahwa kita melewati Maret dengan sempurna

Dengan segala rencana yang memudar

Tersapu ombak

Dan tak sempat memotong pasir

Pada tempat yang kita ingini

 

Berubah memang sulit

Kenyataannya,

Cerita kita bagaikan foto berbingkai

Statis!

Meski seluruh dunia bergerak maju

 

Malam tadi kau memelukku dengan erat

Percayalah, cinta kita hanyalah potongan-potongan waktu

 

Malam tadi kau memelukku dengan erat

Dan aku ingin tertidur lagi

 

 

 

 

Puisi “Gadis Senja”

Tak pernah aku merasa menjadi seperti senja

Tapi kau tlah menjadikannya demikian,

Kau membuatku merangkai pecahan-pecahan kata

Menjadi satu bungkusan yang tak pernah kau lihat

 

Tapi aku telanjur menjelma senja

Yang selalu hadir menangkap lelahmu

Tempatmu pulang beristirahat

 

Tapi aku telanjur menjelma senja

Berharap jingga merahku menarik garis senyummu

 

Aku telanjur menjelma senja

Yang tak pernah meninggalkanmu

Meski waktu tak terlihat

Saat aku berada pada belahan bumi yang lain

 

Karena aku telanjur menjelma senja

Yang mencintaimu dengan demikian

Dan tak pernah takut akan malam

 

 

Kotak Sabun

Kalau tidak ingin tenggelam bersama

Bersembunyilah pada kotak sabun

Ikat ia kuat-kuat

Lalu lemparkan dirimu ke udara

Meskipun akan terjatuh

Tapi aku di dasar laut

Siap menjadi sandaranmu yang terapung

 

 

Suatu Pagi

Semoga semua terbuku di hatimu

Setiap senyum simpul, tawa yang terbuka luas bahagia

Emosi dan kesempatan adalah tak ubahnya kata dan perjalanan

Yang tak harus dibuang kemana

Membiarkan mereka terbaring sejenak dalam ruang kita

Seperti musim dingin yang menusuk sampai ke ulu hati

Atau kemarau yang menghembus angin sampai ke helai rambut

Biarkan begitu sengit

Perjalanan Cinta kita,

Sampai pada suatu pagi, kita akan mengerti arti matahari

Demi Tuhan

Semakin dalam aku menggali rasa keingintahuanku
Semakin sering aku melihatnya
Semakin jauh aku mengenalnya

Sakit

Begitu banyak  malaikat datang dan pergi dalam hidupmu
Begitu juga beratnya tanggung jawabmu

Aku

Apa harus menutup mata dan pura-pura tak tahu
Atau aku tahu tapi aku tak mau tahu

Aku ini terdakwa, tertuduh
dan kenapa harus aku ?

Bolehkah aku bertanya pada-Mu Tuhan
dan berilah jawaban segera
*memang aku sedikit memaksa*

Untuk apa aku di sini
Untuk dia?
Bukankah dia sungguh sudah berlebih?

Aku bingung, sungguh sangat
Rasa cinta, sakit, bermimpi, tak punya harapan
berbaur menjadi satu kesatuan

Apa permintaanku terlalu tinggi?
Demi Tuhan... jika ini tidak tepat
aku harus berbelok ke mana?

Atau aku harus terjatuh dari anak tangga

Yang ku susun dari tumpukan syahdu

Aku hanya ingin teduh
jika bersamanya

Tuhan

Sungguh sederhana bukan?

 

 

Dua Helai Benang

Jangan merindukanku dengan cara yang curang

Tak perlu menjelma jala yang selalu melintas di pikiranku

Kembali Merengkuh erat dengan janji di atas bulan

Aku tidak percaya, sungguh!!

Jangan merajut waktu sedikit demi sedikit menjadi sulaman rencana

Pada Desember segitiga itu semua telah kusut,

Membuat malam tidak tertidur dan udara tanpa hembusan

Angin telah membawa kita masing-masing

Ke laut lepas yang entah maunya apa

Kata “Halo” dan “Selamat tinggal” selalu sedekat ini

Meski tak sempat diucapkan,

Jika jemari hati telah melambai, jangan harapkan kembali

Kali ini,

Tiada yang kehilangan juga tanpa pemenang

Jangan merindukanku dengan cara yang curang

Biasakanlah….

Karena kita hanyalah dua helai benang

 

 

Jika Langit Telah Jenuh Menjadi Kertas

Pohon, udara dan lautan telah mati

Maka Aku akan melukismu di setiap irama

Pada Irama yang menangis habis, terlepas satu-per satu

Dan meninggalkan seluruh organku

 

 

Janji Neptunus

Neptunus! berjanjilah membawanya kembali pulang

Aku akan menunggu di setiap balik pintu

Dan Janjimu bukanlah janji-janji partai

Aku percaya itu

Karena ribuan hari tiada yang sepi

Kau bercerita tentangnya

Selalu

Di planet imajinasi

Jika Senja Menua

Mungkin suatu saat senja akan lelah dan pulang

Memadamkan jingga

Berpendar pada awan

Membuat tangisan

Merongrong tanah basah

 

Aku bukan menangis,

Hei pemilik hatiku!

Justru rinduku terpuaskan

Lukaku mencium debu

Tertambat!

Pada ritme derumu

Setiaku tak pernah mati

Hanya sedikit lelah

Oleh perjalanan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Satelit Jiwa, Bawalah Dirinya

Menyimak malam terlihat kesepian
Melirik hujan begitu pengertian

Merindukanmu bagaikan serangan jantung dadakan

Angin merangkul keruh bintang dan bulan
Menghindari pertanyaan

Satelit jiwa bawalah dirinya kembali!
Agar kulihat matanya lagi, juga tertawa itu


Satelit jiwa bawalah dirinya kembali!
Karena tidak pernah ada yang sedemikian itu

Jangan buat dirinya berlayar tanpa ingin pulang

Satelit jiwa, berjanjilah!
Kau tahu bagaimana rindunya aku

 


Kaki-kaki Langit
Jika aku menjadi hamparan tak terhingga untukmu

Yang tak pernah habis dimakan zaman

Teruskah engkau meninggalkanku?

Tak kan pernah ada ruang seluas hatiku

Percayalah

Tidak akan ada yang lebih kuat

Dari kaki-kaki langit

Yang menopangmu

Malam Telah Pergi

Sepi
Diam
Gelap
Bintang yg bertaburan tak satupun tersenyum
Dan bulan tampak lelah

Ini bukan kesedihan
Atau upacara kematian
Ini hanya pergerakan waktu
Semua berotasi, juga seorang aku

Dan aku ..belajar kembali menggerakkan jari-jemariku

Pada deru ombakmu

Malam pergi berganti pagi

Seterusnya
Dan akan selalu begitu..

Ada yang sedang mengintip,
Ada yang cemburu,
Ada yang marah,
Ada yang sukacita

Semua ada...dan semua bergerak
Meskipun sedikit kata

Yang dapat merangkum semua yang tak sanggup diucapkan oleh mata

Malam telah pergi, dan
Matahari tak perlu cemburu...

 

Musim Gugur vs Keguguran

Ku dengar cerita tentang indahnya musim gugur

Tapi di sini sedang keguguran!

Seperti seorang ibu hamil yang kehilangan janin

karena kurang gizi lalu terjatuh

Menangis karena kehilangan sang jabang bayi..penerusnya!!

Dan berdarah-darah airmatanya,

menyesali betapa kurang diperhatikannya tadi-tadi

 

Hhmmm apakah setiap yang gugur itu indah..?

Atau akan membuat keindahan ?

Kalau dibayangkan ceritamu, memang sangat indah

Bak slide adegan film cinta,

mesra di bawah daun jatuh berguguran

Tapi di sini keguguran!

Ada sesuatu yang hilang

Entah siapa yang merampas atau karena kurang terjaga

 

Di sini seperti Ibu Pertiwi yang keguguran... menyesal ?

Dan takut untuk mengandung lagi ?

 

 

Bukan Milikku

Pasti sedang sendiri, di sana
Ingin aku kembalikan apa yang tidak semestinya

Aku mengintip dari jendela saat senja
Ketika semua mata ingin beranjak lelap

Kau terus memeras otak, dan
Butiran-butiran keringat itu, pasti bukan hanya lelah
Tapi juga hampir mati kebosanan

Ingin aku buat sebuah nama itu manjadi tato
Sayangnya itu berarti permanen
Dan jelas tak mungkin
Yang bisa aku lakukan hanyalah
Tetap setia saat kau berada di bahu jenuh

Pada hidup dan tempaan
Hingga semua yang dilakukan tidaklah sia-sia

Satu yang bisa menghiburku
Adalah nanti, saat bertemu lagi
Dengan pelukan seperti tadi

Segar , membuatku bernafas sejuk

 

 

 

 

 

 

 

Aku Tak Bersayap

Sudah jelas terlihat aku tak bersayap
Tetapi  hatiku mampu membawamu

terbang ke mana saja
Untuk melihat keindahan

Jelas terlihat Aku tak bersayap,
tapi Aku punya hati yang dapat membuat ketenangan bak malaikat

Aku memang tak memiliki sayap

Seperti
Aku tak memiliki kebencian, dan dendam

Aku memang tak mungkin untuk memiliki sayap,
Tapi setelah terbangun dari tidur panjang

Membuatku merasa memilikinya

Aku tak punya sayap, memang
Seperti Aku tak punya bosan atasmu

Aku terlihat tak bersayap, jelas bukan?
Tapi aku merasa sedang terbang bebas...lepas..
Dari setiap beban

Dan aku tersenyum,
Melihat suatu kode dan kita bergegas

Untuk bertemu
Oleh satu kesalahan

Sejujurnya Aku tak Bersayap, pasti!
Seperti Aku tak mungkin kembali terbang ke arahmu

Ada sesuatu disana

Ada sesuatu di sana 
menari dan bersenandung 

Ada sesuatu di sana
bersedih dan menunggu 
Ada sesuatu di sana… 
Merasa bersalah, namun ingin tetap bertahan 
Ada sesuatu di sana…semakin lama begitu jelas 
Dan karena ada sesuatu di sana

Maka kutinggalkan.. 
Dengan membiarkan sesuatu tetap di sana

Ada sesuatu di sana

Mengeras pada monumen kisah kita

Benci dan Cinta

 

 

Titik 0

Menangis sampai habis

Marah sampai aku tertidur sendirian

Aku biarkan dayaku habis

 

Kedinginan dan demam yg terlalu

sampai aku tak bisa merasakan apapun lagi

Cukup sekali ini saja!!

Karna aku tak bisa menahannya

Sungguh ini di luar ukuran

 

Titik 0 di hatiku

Semua membeku tak dapat bergerak

Saat kau tak ingin ditinggalkan

 

 

Mesin Penghancur Kertas

Tak sempat berteriak

Tak ada pilihan, sama sekali!

Dengan banyak goresan aku dibuangnya ke sana

Lebur!

Membuat ketidakteraturan yang rapi

Tadinya aku begitu penting, sungguh!

Di atas dengan tumpukan bahasa,

Tapi kini tanpa arti sama sekali

Lalu dibuang

Ke tempat sampah!

Sehabis terpotong hancur

 

 

 

 

 

 

 

 

Akulah Juaranya

Aku memang juaranya

Yang membunuh hatimu perlahan-lahan

Kau merasa lebih dulu menjadi pemenang

Merasa berhasil membohongiku

Jauh dari itu, aku sudah sangat tahu

Bohong adalah milikmu

Teruskanlah!

Dan aku juaranya untuk berhenti

Bertepi

Di jalan ini..

 

 

Sentimentil

Hatiku sentimetil

Lalu harus bagaimana?

Membuat larik lirik

Pada perahu-perahu kertas

Dan menghanyutkannya ke kali

Berharap daun gugur melindunginya

Mengais kata perkata

Membawanya ke laut

Biar terpecah ombak

Hancur berserakan setiap hurufnya

Berhambur berserakan

 

Hatiku sentimentil

Lalu harus bagaimana?

 

 

Wakatobi Tinggal Mimpi

Lupakah pada impian yang pernah singgah pada kita?

Memeluk angin lautan

Bersandar pada pasir

Bercerita pada malam

Membuat kisah pada langitnya

Mencipta lagu untuk hujan meteor

Dan membiarkan nyiur membelai cemburu

Dua tangan kita berpegang saling menguatkan

 

Ah! Jangan percaya pada rencana

Yang ada cinta kita memudar, kosong tanpa peta

Ingin kubungkus saja isi hatiku dalam plastik

Kubuang ke dasar air garam

Bersama mimpi-mimpi

Yang pernah kubangun bersamamu

 

Setidaknya hidup di sana

Walau kisah kita telah tragis

 

Aku Belum Pernah Benci

Raih tanganku

Kau akan memiliki hatiku lagi

 

Peluk tubuhku

Kau akan menguasaiku lagi

Karena aku belum sempat membenci

Hanya sedikit kau lukai

Dan akan sembuh jika kau obati

 

Yakinkan percayaku kembali

Dan aku akan mencintaimu lebih hebat lagi

 

 

Adakah kau hidup di sana?

Adakah kau hidup di sana?

Mengenang kesedihan kita yang terlalu indah

Adakah kau hidup di sana?

Memelihara setiap rindu terpendam kita

Adakah kau hidup di sana?

Mengingat setiap lekuk tubuhku

Adakah kau hidup di sana?

Menyimpan setiap suaraku

Merasakan detail aromaku

 

Cinta kita bagaikan mistik pagi hari

Yang terlalu cepat pergi

 

Adakah kau di sana?

Dan akan kembali..

 

 

Sepotong Hatiku

Mengantarmu pulang

Tanpa pelukan

Tak mau melepas pandangan

Sejengkalpun tak ingin kau luput

 

Angin berbisik

Kau takkan pernah kembali

Lalu aku meohon

Kembalikan sepotong hatiku

Atau aku mati abadi

 

Ingin kubeli waktu

Penyembuh luka

Pada bagian yang pernah kau bawa

 

Pada rumput taman hatiku

Jangan lagi kau bakar habis

Sisa-sisa layunya

 

Biarpun begitu

Setiap seratnya tak pernah menyerah

Agar kau rangkai kembali

 

 

Kau dan Aku-1

Benar, kita bagaikan langit dan laut

Pernah sekali pandang bersatu dalam titik horizon

Tapi sesungguhnya kita tidak pernah bisa dipersatukan

Keduanya tak pernah berujung

 

 

Kau dan Aku-2

Aku ingin mengerti

Tanpa emosi

Merasa kau permainkan

Sakit dan terluka seperti sudah jadi biasa

 

Ternyata sungguh ada perasaan yang seperti ini

Mencintaimu dengan segalanya

Begitupun kau menyayangiku semampumu

Namun kita tak pernah ada akhirnya

Tak pernah ada ujung untuk bersama

 

Lalu bagaimana cara bertahan?

Saling menyayangi saja ternyata tidak cukup

Dunia dan kebiasaan kita ternyata lebih kejam memisahkan

Karenanya memang percuma

Kita memaksa untuk meneruskan semua ini

 

Tidak sanggup

Kau dan Aku, tak memiliki titik temu.

 

 

Menunggu-1

Pada bangku jalanan

Dengan sedikit kekuatan

Bulan demi bulan

Tahun demi tahun dari tumpukan hari

Tak sedikit pun membuatku bergeming

Untuk berhenti mencintai

 

Sampaikan pada yang lain

Ini adalah urusan hati

Bukan aku yang emosi

 

Kalau bukan perbedaan akan kukejar habis

Mencintai dan menunggu bukanlah kriminal

 

Aku akan tetap duduk di sini

Sampai hari terlihat dari ufuk

Laut menggapai Langit

Langit meraih Laut

 

Barangkali itu esok hari

Atau beberapa tahun lagi

 

Detik-detik itu pasti kembali

Januari, Juni entah September

 

 

Menunggu-2

Bolehkah mencintaimu

Tanpa rasa was-was

Jika mencintaimu tidak seperti jatuh cinta pada biasanya

Maka aku akan rela menunggu

 

Jika

Pipiku merona lebih dari biasanya

Senyumku merekah lebih dari biasanya

Maka bolehkanlah aku menantimu

Tanpa rasa was-was

 

Menunggu-3

Menungggu adalah soal kesabaran dan kepercayaan

Semoga yang ditunggu akan datang

Aku akan menerima isi dari setiap menunggu

Yang baik

Yang buruk

Yang dibenci

yang diinginkan

Yang menyedihkan juga yang menyenangkan

 

Kau, bolehkah aku tunggu?

Kapasitas menungguku tanpa batas

Jangan khawatir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

~ Kadang kakiku ingin melangkah

Tak ingin diam di sini

Jauh.. kubawa sejauh-jauhnya

 

Jika setiap tempat di hatimu tidak akan pernah sama lagi

Dan ruang di mana kita tidak bisa tersenyum adalah neraka

 

Walaupun peperangan batin sudah mulai

Apapun ceritanya

Aku akan bertahan di sini

 

Kau di sana teruslah melangkah

Aku akan menjelma tentara

Untukmu, selamanya ~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

What can you do

With a sentimental heart? 

 

Orang yang hebat adalah orang yang bisa mengatasi rasa sakitnya dengan melakukan hal-hal positif.

Jika rasa sakit di dalam hati, maka buatlah hati kita tahu dan mengerti bahwa rasa sakit ini tidak akan pernah bisa sembuh oleh dokter manapun jika hati kita sendiri tidak mampu berdamai dengan keadaan.

Biarkan rasa sakit itu sembuh oleh waktu yang diisi oleh hal-hal baik, seperti menulis puisi.

Selain dapat membuat hati lega pada saat itu juga, ternyata menulis puisi mampu membuat kita tersenyum kemudian.

Waktu bagaikan mistar yang panjang. Terus bergerak ke arah lebih. Begitu juga dengan sakit hati, pasti akan sembuh dengan sendirinya.

Percayalah..

 

Salam,

Galuh Hapsari

 

 

 

 

 

Tentang Penulis:

Galuh Hapsari lahir pada 3 september. Perempuan penuh delusi, dan ingin mewujudkan setiap impian menjadi nyata.

Kunjungi  http://rumahlangit.tumblr.com/ jika ingin menggalau bersama saya dan kunjungi http://langitbatik.blogspot.com/ jika ingin tampil mempesona dengan busana padu padan batik ala saya ;)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Testimoni:

 

Sebagai refleksi hati, puisi-puisi yang ada di buku ini bisa mewakili berbagai peristiwa bagi hati siapa saja. Penyampaiannya yang sederhana dan tak terlalu meliuk dalam kiasan, membuatnya mudah dipahami bagi yang membacanya, atau bahkan  bagi yang ingin mengutip bait demi baitnya untuk menyampaikan rasa terdalam yang teramat khusus dalam bagian hidupnya. – Risa AMRIKASARI, Penulis  Buku Motivasi Diri Bagi Perempuan, Konsultan Hak Kekayaan Intelektual.

 

 

"Kumpulan puisi ini keterlaluan. Sebentar-sebentar membuat saya tersenyum sendiri, lalu mendadak galau. Begitu terus berulang kali. Ini namanya mempermainkan pembaca. Keterlaluan!"
Kumpulan Puisi Cihuy! :)

– Indra Prasta, Vokalis The Rain Band, Komikus.

 

 

Membaca kumpulan puisi dari Galuh Hapsari, berhasil menghadirkan efek magis yang kerasan bermukim di hati dan otak saya hingga sampai halaman terakhir.

Sebuah drama patah hati yang terasa manis, tragis namun tetap puitis. Kekuatan kata-katanya yang kritis menjabarkan,benar-benar mewakili rasa yang hendak disampaikan. 

Pesan moral bagi anda pembaca yang tengah patah hati pun dibubuhkan penulis sebagai kekuatan serta kesempatan untuk melakukan pelarian kepada hal yang positif.

Kalau pesan dari saya sendiri sih "Kalau Tuhan mau kasih mercy, ngapain nangisin Bajaj yang barusan lewat?"

Well, above of all..saya bingung.... dengan kalimat yang sedemikian indahnya, sang penulis kok berani-beraninya mengaku sebagai penulis pemula? she is a way better than that..!

Sukses terus untuk Galuh dan karya perdananya-semoga karya berikutnya mampu membawa asa yang lebih hebat lagi.

Bunga Mega
(Author Tic Toc Tic Toc:Quarter Life's Tale-the novel)
 

 

 

Turquoise membuat kita mengembara ke dunia hayal. Sentilan kata-katanya juga memaksa kita memeras memori tentang cinta yang indah, penuh harapan, sekaligus menyakitkan. Ujungnya, kita semua tahu cinta itu untuk dinanti bukan untuk ditakuti J So many beautiful words, I love butterfly dan bagian yang saya suka adalah : “Jangan pangkas hujan” karena membawa pesan kerinduan. – Hari Murtono, Redaktur Tabloid Bintang Indonesia

 

 

 

Saya tidak suka puisi sampai saya membaca kumpulan puisi hebat ini yang dibuat oleh orang gila, yang akhirnya isinya membuat saya tergila-gila.

Hati-hati buat Anda yang sedang galau, jangan terlalu banyak mengkonsumsi bacaan ini. Terlalu banyak pil di buku ini yang bisa membuat orang senyum-senyum sekaligus berkaca-kaca secara berkala karena cinta.

“Love’s make you crazy but Turquoise is Superb” –Meltrin, teman menggila dan kebetulan Marcom Tabloid Mom & Kiddy MNC Group

 

 

Bagi saya, puisi itu tulisan tangan dari hati. Kadang digores dengan air mata atau harap yang meluap luap. Membaca Turquoise dari Galuh. Saya serasa duduk di pinggir pantai dan menjadi saksi mata antara Laut dan Langit yang sedang saling memendam rasa, memendam makna. :)

Nice Poet you had there Galuh. Sukses ya

--Rahne Putri, Penulis. Tergabung bersama Hermes buku Empat Elemen

 

 

Turquoise mempuisikan cinta dengan kekayaan metafora. Kadang bisa dituang dengan emosi jiwa, meskipun bisa terasa unik dengan penuturan jenaka. Turquoise adalah cinta ala Galuh. Dan bisa jadi juga mewakili kita-kita dalam proses memaknai cinta. –Andi Lubis, Redaktur Harian Analisa, Owner Galeri Cinta Photography 

 

 



You May Also Like
 

Review
 
No review yet. Be the first to review this book!

Write A Review
 
Name
 
Email
 
Review
Captcha