Rindu dan Cinta Jon Roy
by TrianTR
0 Colour Pages & 215 B/W Pages
Kategori: Novel
Harga: Rp 56975

Kisah ini dimulai dari obrolan 3 gadis remaja bersahabat grade 12. Mereka adalah Ena, Bethanie dan Milanka. Suatu kali mereka menginap di kediaman Ena, di perumahan mewah 2765 Sawmill Park Drive Dublin, Ohio, Amerika Serikat. Bethanie dan Milanka melihat sebuah foto dari Cliff, ayah Ena, dengan seorang kakek yang wajah serta gayanya aneh. Ternyata orang tersebut adalah sosok dari masa lalu Cliff. Orang itu bernama Jon Roy, orang Jawa asli tetapi herannya suka jazz. Walau Jon bukan orang terkenal, asalnyapun dari udik, tetapi ia sangat berarti bagi Cliff, bahkan sudah menjadi “ayah kedua” baginya. Seperti buku Robert Kiyosaki yang berjudul “Rich Dad, Poor Dad”, Jon adalah poor dad yang sangat memengaruhi nilai hidupnya. Maka terkuaklah kisah mengenai Jon Roy. Dulu semasa masih menjadi mahasiswa pasca sarjana untuk program Ph. D dari Ohio State University (OSU) Cliff pernah meneliti budaya Jawa. Sahabatnya, Tracy, memberikan informasi tentang Jon Roy. Kata Tracy, kakek ini adalah seorang nyentrik yang fanatik pada musik jazz! Cliff, yang juga penggemar jazz fanatik itu sangat penasaran dengan sosok ini, hingga membawanya datang dari Amerika ke Indonesia untuk menyambangi Jon. Jon Roy adalah legenda yang tak melegenda. Ia berasal dari desa Ngelak, Prambanan, Jawa Tengah. Sekilas kakek tua itu biasa saja, tak ada yang istimewa. Namun ternyata kakek udik itu layak masuk ke dalam golongan jenius walau dengan gayanya yang sering kali sotoy (sok tahu). Ia suka menulis dengan tata bahasa maha kacau, berantakan, dengan bahasa campuran antara bahasa Jawa sederhana, bahasa Inggris yang amburadul dan bahasa Indonesia yang keinggris-inggrisan. Siapa sebenarnya kakek renta penyendiri itu dicap gila ini? Mengapa ia suka menulis? Ini ada kisahnya. Saat kecil, ayah Jon adalah pengurus rumah tangga seorang peneliti asal Belanda bernama Henk Kollman. Kollman adalah duda anak satu, yang adalah salah seorang tim peneliti dari Ir. V.R. van Romondt saat melakukan pemugaran candi Prambanan pada tahun 1942. Ia banyak memperkenalkan ilmu pengetahuan kepada Jon kecil, membuat anak itu menjadi lebih cerdas dibanding anak seusianya di kampung. Karena kagum pada buku-buku Kollman yang sangat banyak berjajar di rumahnya, tanpa ada yang menyuruh, Jon kecil belajar menuangkan ide di dalam tulisan. Ia bercita-cita ingin menjadi penulis buku. Suatu kali Kollman mendadak harus meninggalkan Indonesia dan ia meninggalkan banyak catatan yang ditulis dalam bahasa Jawa, Inggris, Indonesia, dan Belanda. Catatan-catatan inilah yang dibaca oleh Jon kecil, kemudian ia intepretasikan ulang, dan menginspirasinya untuk menulis. Tetapi yang tak diketahui oleh Kollman, ternyata ada cinta yang bersemi antara anaknya, Rebecca, dengan Jon Roy. Cinta dua negara, antara si udik dan noni Belanda, anak pembantu dan anak majikan; sebuah cinta yang disimpan Jon dan Rebecca hingga masa remaja mereka. Ketika harus berpisah, mereka begitu sedihnya. Puluhan tahun mereka dipisahkan jarak dan waktu. Namun cinta mereka tetap membara, merekah hingga usia renta. Setelah menemukan catatan-catatan Jon yang unik, Cliff ingin membawa Jon ke Amerika. Selain karena iba, Cliff juga ingin mengangkat harkat hidup Jon. Bagi Cliff, ide-ide coretannya unik dan bermakna. Jon tidak gila seperti pikiran kebanyakan orang. Ia naif tetapi pintar. Keunikannya inilah yang mendorong Cliff untuk memperkenalkan Jon kepada civitas akademikanya di kampus OSU, dan dan hendak membukukan kumpulan tulisan Jon yang sudah ia edit dan telah dibahasakan ulang. Niat Cliff akhirnya kesampaian, walau sungguh berat mendorong Jon untuk pergi ke Amerika, akhirnya mereka berdua pergi juga! Kisah perjalanan mereka ke Amerika sangat kocak namun juga menjengkelkan karena gaya Jon yang sotoy. Gara-gara Jon, suasana penerbangan menjadi kacau hanya gara-gara Jon kebelet pipis tetapi takut membasahi orang-orang di bumi. Di Amerika ia ingin bertemu presiden Kennedy yang sudah lama wafat. Ia ketakutan saat malam pesawat masih jalan, takut tabrakan. Ia tidak bisa membedakan mana kedutaan besar Amerika di Indonesia dan negara Amerika. Ia pikir Amerika dan Belanda adalah negara tetangga. Karena itulah ia ngotot pasti akan ketemu kekasih masa kecilnya, Rebecca, di Amerika. Cliff bingung dan kesal, karena Jon ternyata sangat keras kepala. Saat mereka tiba di Amerika, di kampus Ohio State University, keberadaan Jon menjadi kontroversi. Lalu bagaimana nasib Jon di OSU? Selain suka jazz, sepanjang hayatnya Jon selalu terkenang pada Rebecca. Gadis bermata biru itu dicintanya secara rahasia seumur hidupnya. Bagi Jon, standarisasi kecantikan seorang wanita adalah Rebbecca. Karena Kollman harus kembali ke Belanda, kisah cinta remaja mereka harus terputus dan tak jumpa selama puluhan tahun. Namun Jon tetap setia menunggu. Apakah mereka akan bertemu? Mengapa Cliff tertarik pada seorang cewek Belanda, siapa dia? Ini adalah kisah silang budaya, dikemas dalam bahasa yang ringan, kadang konyol, tetapi juga sarat emosi. Kisah ini menjadi perenungan bahwa selayaknya peradaban manusia tidak saling curiga dengan budaya yang berbeda, tetapi mengelaborasinya menjadi keindahan harmoni demi sebuah dunia yang saling respek. Walau tentu saja, seringkali ada catatan buruk dalam sejarah perjumpaan insan antar bangsa dan budaya yang berbeda-beda itu. Ada banyak kutipan baik kutipan pepatah Jawa, pepatah dari tokoh-tokoh jazz, kisah-kisah sejarah nyata seperti W. R. Supratman yang menggubah lagu kebangsaan “Indonesia Raya” apakah ia penggemar jazz? Apa kaitan Rhoma Irama dan OSU? Siapa maestro lukis Indonesia yang pernah menjadi honorary professor di sana? Jazz tidak dapat lagi dikatakan “untuk kalangan terbatas” atau musik “orang tua”. Di negeri ini sudah ada festival jazz “Jak Jazz” yang bertaraf internasional di era 80-an, kemudian muncul Java Jazz di era 2000-an. Sudah bertaburan penyanyi serta musisi jazz yang sudah merambah usia remaja seperti Raissa, Eva Celia, Sierra Soetedjo, Citra Scholastika, dan yang paling baru adalah pianis jazz belia Joey Alexander yang menjadi nominator untuk 2 kateogri pada Grammy Award 2015 dalam usia 12 tahun. Jazz sudah menjadi musik berkelas dan sekaligus popular di kalangan muda Indonesia. Sarat pula dengan pergumulan psikologis seperti kerenggangan hubungan antara ayah dan anak, sikap penolakan, self defense mechanism (mekanisme pertahanan diri), charaphobia (fobia terhadap kebahagiaan) dan psiko somatis (penyakit yang ditimbulkan oleh sebab psikologis). Tak lupa, kisah ini penuh dengan kisah cinta. Cinta antar bangsa, cinta keluarga, cinta monyet, romansa cinta orang tua, dan ekspresi-ekspresi keindahan atau kenaifan cinta.



You May Also Like
 

Review
 
No review yet. Be the first to review this book!

Write A Review
 
Name
 
Email
 
Review
Captcha